Menuju Arah Pendidikan Indonesia Maju

Menuju Arah Pendidikan Indonesia Maju

Oleh : Muhammad Nor Rakhim

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi

 


            Pendiri startup teknologi Gojek, Nadiem Anwar Makarim yang kini menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di Kabinet Indonesia Maju siap membawa pendidikan Indonesia lebih baik lagi. Tentunya dengan padanan sentuhan teknologi terkini dan kurikulum baru.

            Pemain edutech atau sarana edukasi berbasis digital Extramarks meyakini bahwa Nadiem paham bahwa masa depan pendidikan Indonesia berbasis teknologi. Country Manager PT Extramarks Indonesia Fernando Uffie menyampaikan, dengan pola pikir Nadiem, dirinya percaya bahwa Nadiem bisa melihat gambaran besar dari cita-cita pendidikan Indonesia.

            “Kalau berbicara mengenai edutech, kami menyambut baik ini, karena secara resmi, kita mempunyai orang yang memang mengerti. Dengan demikian, dalam implementasinya (di dunia pendidikan) kita tak perlu meragukan, apalagi dengan apa yang sudah dilakukan Nadiem di Gojek,” katanya usai meluncurkan fitur baru di aplikasi pendidikan Kelas Pintar di Jakarta, Kamis (24/10) sore.

            Soal masa depan pendidikan di Indonesia, Uffie sepakat bahwa dalam mengelolanya dibutuhkan orang yang memiliki kemampuan. Secara spesifik kemampuan tersebut adalah dengan melihat gambaran besar dan mampu memprediksi tantangan di masa depan.

            “Selama 9 tahun Pak Nadiem melakukan pengembangan terhadap fintech, yang namanya Gojek, saya pikir itu adalah suatu kemampuannya untuk melihat gambar besar dari industri, dalam hal ini adalah fintech pada saat itu,” imbuhnya.

            Dirinya meyakini, dengan konsep time to market yakni digitalisasi pendidikan, Indonesia harus siap membawa haluan pendidikan ke arah yang diharapkan pasar di masa depan. Untuk itu, Uffie percaya pengalaman Nadiem ditambah visi Presiden Joko Widodo akan membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik.

            Sebagaimana diketahui, Presiden Jokowi saat mengumumkan nama-nama menterinya dan menyebut nama Nadiem, Presiden memintanya untuk membuat terobosan yang signifikan dalam hal pengembangan sumber daya manusia (SDM) lewat pendidikan.

            “Kita akan membuat terobosan-terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM, menyiapkan SDM yang siap kerja, siap berusaha yang me-link and match-kan antara pendidikan dan industri. Nanti berada di wilayah Mas Nadiem Makarim,” kata Jokowi di Istana Negara pada Rabu (23/10) pagi saat mengumumkan nama-nama menterinya.

            Dalam sumber daya manusia yang mengacu ke pendidikan terdapat tiga aspek penting sebagai sistem pendidikan yaitu input, proses, dan output. Input pendidikan adalah segala sesuatu masukan yang tersedia karena untuk berlangsungnya proses.

            Input sumber daya manusia dalam pendidikan meliputi pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik. Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lebih baik. Dalam proses inilah fungsi operasional manajemen sumber daya manusia dijalankan dan ditujukan untuk mengadakan perbaikan yang diingingkan. Sedangkan,  output pendidikan adalah merupakan hasil kinerja dari proses yang merupakan hasil kinerja sekolah. Hasil kinerja sekolah merupakan prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualita sekolah. Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah, dapat dilihat dari prestasi yang dimiliki atau dicapai sekolah.

            Dalam upaya untuk menjalankan manajemen sumber daya manusia yang lebih efektif, ada banyak gagasan baru yang diperkenalkan kedalam sistem manajemen sumberdaya manusia sekolah, disertai dengan revisi terhadap gagasan lama yang sudah dijalankan sekian lama. Sebuah gagasan atau proses yang saat ini banyak menyita perhatian adalah manajemen berbasis sekolah. Setiap proses yang bisa mengembangkan manajemen sumber daya manusia di sebuah sekolah, pada akhirnya akan mampu mengembangkan kemampuan belajar para siswa.

            Kita ketahui bahwa manajemen berbasis sekolah (MBS) dapat diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi (kewenangan dan tanggungjawab) lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/keluwesan-keluwesan kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha, dan sebagainya.), untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan otonomi tersebut, sekolah diberikan kewenangan dan tanggungjawab untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan tuntutan sekolah serta masyarakat atau stakeholder.


Admin FDK

Komentar