Lawan Intoleransi dari Diri Sendiri

Lawan Intoleransi dari Diri Sendiri

Oleh : Siti Fatimah

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UNISNU Jepara


Intoleransi telah menjadi salah satu topik yang paling sering dibicarakan di Indonesia. Hal ini terlihat dari meningkatnya konflik yang disebabkan tidak adanya sikap toleran dalam masyarakat. Kasus intoeransi sendiri terjadi karena sikap diskriminatif terhadap sesama dan perasaan paling benar dalam diri seseorang. Sikap dan sifat intoleran seharusnya ditanam sejak dini. Jika sejak dini tidak ditanam sikap toleransi, maka seseorang akan susah untuk bertoleransi kepada orang lain.

Kebanyakan orang yang intoleran begitu gampang menuduh orang lain intoleran. Pakai celana cingkrang dijauhi, pakai cadar dikira teroris, berpakaian beda sedikit dituduh radikal, beda pendapat dituduh kafir. Lebih serem yang pake cadar, dari pada yang pake rok mini. Lebih serem orang berjenggot, dari pada yang tatoan. Pake baju tauhid ditangkep, pake baju PKI gapapa. Lebih curiga sama yang rajin ibadah ke mesjid, dari pada orang yang mabok-mabokan dan judi. Diduga teroris langsung tembak, bandar Narkoba Internasional bisa di nego. Lebih mentolelir aliran sesat, Dari pada syariat dan masih banyak yang lain.

 Padahal kata intoleran sendiri tidak bisa asal comot, lalu kita tempelkan pada golongan yang secara pribadi kita tidak suka. Misal ''babi itu haram'' tidak bisa diperlakukan untuk semua masalah. Babi baru haram jika kasusnya untuk dimakan manusia. Jika kasusnya lain mungkin bisa jadi halal. Maka kalau kata intoleran dipaksa dipakai untuk hal-hal yang belum kita pahami cuma akan terjadi permusuhan yang memalukan.

Sikap toleransi itu sendiri merupakan kesediaan untuk menerima adanya perbedaan teologi, perbedaan keyakinan, menghargai, menghormati yang berbeda sebagai sesuatu yang nyata adanya dan diyakini oleh mereka yang memang berbeda dengan kita. Dengan sikap toleransi inilah akan lahir sikap hidup rukun dalam perbedaan, tidak saling menghujat, membenci, mengkafirkan apalagi hendak membunuhnya karena berbeda dengan kita.

Tuhan saja Maha-Intoleran, misal kepada siapa saja yang menyekutukan-Nya. Selama ini kita terlalu sensitif dengan kata-kata intoleran, radikal, keras. Padahal kita tahu semua hal butuh frekuensi, titik koordinat yang sesuai.

Sebenarnya perilaku intoleran di masyarakat merupakan hasil gabungan perilaku intoleran dari tiap individu yang merupakan anggota masyarakat. Banyak perilaku intoleran yang individu lakukan secara sadar maupun tidak sadar. Seperti di Negara Indonesia sendiri memang mayoritas Islam, tapi yang paling disudutkan Muslim. Islam mengajarkan untuk jihad dengan fisik yakni mati sebagai martir atau mati di sebuah ujung pedang. Semuanya dianggap sebagai jihad yang sesungguhnya. Hal tersebut terjadi karena kesiapan mental pada diri seseorang yang belum mengerti tetapi hanya ikut-ikutan, sehingga gampang terpengaruh oleh hal-hal yang disampaikan dari orang yang dianggap pintar, serta lebih menguasai dalam hal keagamaan.

Selain itu, banyak sekali kasus-kasus  intoleran sampai keranah pembunuhan karena sifat  fanatisme seseorang pada sebuah agama. Tidak hanya pembunuhan saja, banyak sekali penyerangan ketempat ibadah dan para pemuka agama karena menganggap diri selalu benar.

Jadi, kalau memang sifat intoleran dirasa harus dilawan, saya rasa cuma dengan akal sehat dan hati yang jernih solusinya. Dengan begitu kita akan lebih memikirkan hal-hal yang positif dan lebih banyak mengintropeksi diri. Sebab tidak ada manusia yang sempurna dan setiap agama dan kepercayaanpun juga begitu, jangan selalu mengatakan seseorang lebih buruk dari kita, jika kita sendiri belum melihat ataupun mengerti diri kita yang sesungguhnya. Apakah kita sudah benar-benar baik atau malah kita sendiri yang masih banyak berperilaku intoleransi.

 

Admin FDK

Komentar