Islam with Smiling Face

Islam with Smiling Face

Oleh:

Dr. Abdul Wahab Saleem, S.Sos.I., M.S.I.

(Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unisnu Jepara)


Agama Islam merupakan agama yang agung, tetapi terkadang manusia Islam (muslim) itu sendiri yang menghalangi keagungan Islam akibat dari praktek-praktek keislaman yang justru tidak sesuai dengan nilai dasar Islam itu sendiri, karena perilaku keislaman terkadang hanya dibungkus dengan “simbol-simbol” yang hampa makn. Meski nilai ketuhanan selalu dikampanyekan tetapi nilai-nilai kemanusiaan terabaikan, agama menjadi terkesan garang, mencekam, meneror, keras dan kaku. Hal-hal demikian tentunya menjadi kegalauan tersendiri bagi kita bersama yang selalu mengharapkan bahwa proses keislaman seharusnya bernuansa Rahmatan lil-‘alamin, karena Nabi Muhammad diutus juga membawa misi rahmat bagi semesta alam “dan tiadalah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam”.

Belakangan, kita melihat terjadi “kelainan” dalam dunia dakwah Islam kita. Banyak orang atau bahkan kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai pendakwah, akan tetapi mereka seakan kehilangan “ruh al-da’wah” (spirit mengajak) dan yang terlihat justru “ruh al-adawah” (sepirit memusuhi). Pernyataan ini bukan tanpa alasan, melihat massifnya aksi dakwah yang dilakukan oleh sebagian orang atau kelompok dengan mempertontonkan kebencian dan penolakan terhadap siapapun yang “berbeda” dengan mereka. Tentu hal ini sangat disayangkan, karena semua sepakat, bahwa Islam tidak pernah mengajarkan diskriminasi, tidak pernah mengapresiasi konflik yang disulut oleh SARA. Sehingga, sekali lagi, kita harus mengingat kembali potret perjalanan dakwah Rasul Agung Muhammad saw. yang dipenuhi dengan “ruh al-da’wah” dan bukan “ruh al-adawah”.

Dalam melaksanakan aktifitas dakwahnya, Rasul selalu mengedepankan akhlaqul karimah, inspiratif, tidak hanya aspiratif. Inilah yang kemudian mewajarkan beliau mendapat pujian dari Allah “dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti luhur” (Qs. Al-Qalam/68: 4). Ayat ini menurut Abu Na’im dalam al-Dala’il dan juga al-Wahidi dalam asbab al-nuzul adalah bentuk apresiaisi Allah terhadap keluhuran budi Rasulullah, karena dalam setiap hal, Rasul selalu menampakkan muka yang tersenyum (bassam), bahkan dalam komentar Aisyah, tiada seorangpun yang akhlaqnya lebih baik daripada Rasulullah, beliau apabila dipanggil oleh sahabat atau keluarganya selalu menyambutnya dengan muka yang tersenyum seraya mengucap “labbaik” (okey, dengan senang hati). Mendakwahkan Islam dengan muka yang tersenyum inilah yang dipraktekkan oleh Rasulullah.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa dakwah Rasulullah sering berhadapan dengan para penentang yang sangat keras, kaku, dan bahkan tidak manusiawi. Akan tetapi, itu semua tidak meruntuhkan moralitas Rasul yang sangat inspiratif itu. ketegasan yang penuh kesantunan selalu beliau jadikan sebagai model berdakwah. Tetapi belakangan ini, seakan kita menyaksikan model-model dakwah yang “lain”, berteriak-teriak, melakukan sweeping, main hakim sendiri, merasa paling benar, paling berhak menghuni surga dan sebagainya, yang justru semakin terasa menjauhkan dakwah dari tujuan utamanya, yaitu mengeluarkan orang dari kegelapan menuju terang-benderang. Bagaimana mungkin bisa mengajak orang lain keluar dari kegelapan apabila praktik dakwahnya mengandung “kegelapan” juga?.

Point penting yang dapat kita petik dari tulisan sederhana ini adalah keniscayaan menampilkan dan mendakwahkan Islam “with smiling face” (Islam dengan wajah yang tersenyum), Islam dengan tampilan keramahan, karena dengan Islam yang semacam inilah tujuan-tujuan persatuan dan persaudaraan baik antar maupun antara pemeluk agama dan juga antar dan antara warga bangsa dapat tercapai. Agenda “mempersatukan” dan “mempersaudarakan” merupakan gerakan yang harus dilakukan oleh semua warga bangsa saat ini, bukan sekedar terwacanakan melalui berbagai pembicaraan dan diskusi yang terkadang tidak memiliki makna. Hal ini sangat penting dilakukan di tengah kondisi bangsa yang katanya menjunjung tinggi nilai persatuan tetapi berbagai aksi pemicu disintegrasi tak henti-hentinya merebak dan terkesan “didiamkan”. bangsa yang katanya bersaudara tetapi sering menampilkan jiwa-jiwa permusuhan. Bangsa yang katanya menjunjung tinggi demokrasi tetapi tidak siap untuk menerima perbedaan pendapat. Sektarianisme, arogansi kelompok atau golongan, kebiasaan “truth claim” dengan menyesatkan dan mengkafirkan kelompok lain menjadi pemandangan yang sangat biasa di depan mata kita. Dan hal-hal inilah yang seharusnya sekali lagi menjadi fokus lahan garap kita bersama dalam berdakwah. Wallahu A’lam.


Komentar



Berita Terkait