Selamat Datang Mahasiwa Baru Fakultas Dakwah dan Komunikasi


DINAMIKA MAHASISWA [UNISNU]; DULU DAN KINI (Hanya “Sepotong” Pandangan dan Harapan)

Ancang-ancang

Munculnya tulisan ini, tentu saja bukan semata-mata dalam rangka membandingkan antara mahasiswa zaman dulu dan era kini, tetapi lebih pada pemaparan cerita “semangat” dan “gerakan” yang agak berbeda dalam ranah-ranah kemahasiswaan. Hal ini menjadi penting, mengingat dengan mengkaji  “masa lalu” menjadikan kita bijaksana dalam “menjalani” masa kini dan “menggapai” masa depan.

Sering penulis sampaikan di berbagai forum bahwa mahasiswa memiliki banyak sekali “sebutan” prestisius yang merepresentasikan bahwa mahasiswa merupakan sosok “terpilih”. “Sebutan-sebutan” prestisius tersebut antara lain “agen of change”, “kaum intelektual”, “generasi emas”, dan sebagainya. Tentunya sebutan-sebutan itu tidak hadir begitu saja, tetapi sebutan yang pastinya diikuti oleh harapan-harapan besar para penyebutnya sekaligus juga harus diimbangi dengan tanggungjawab moral yang kuat dari yang disebut. Mahasiswa disebut “agen of change” tentu dengan harapan mahasiswa mampu mengawal berbagai “perubahan” bahkan menjadi pelopor dan berada di garda paling depan dalam setiap aksi-aksi perubahan menuju lebih baik, dengan kecemerlangan pemikiran dan keberanian “pemberontakan-sucinya” (dan memang dalam sejarahnya begitulah yang terjadi). Kemudian tidak salah pula ketika mahasiswa juga dijuluki “kaum intelektual”, karena merekalah yang selama ini diyakini memiliki kemampuan nalar (reasoning power) yang luar biasa sekaligus penggemar ide-ide, pengetahuan dan nilai-nilai (devootee of ideas, knowledge and values). Harapannya tentu, mahasiswa mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara ideal, serta mampu merespon dan menafsirkan lingkungan hidupnya dengan sikap kritis, kreatif, obyektif, dan analitis, tetapi tetap tangguh dalam memegang komitmen keagamaan. Harapan-harapan tersebut pastinya harus diimbangi dengan tanggungjawab moral mahasiswa sesuai “sebutan”-nya tadi. Karena faktanya, saat ini masih terlampau banyak yang “mempertanyakan” pola pikir, tingkah laku, bahkan kualitas dan kemurnian gerakan mahasiswa.

Ketika fenomena “sekularisasi” menggema di masyarakat, dan kebetulan mayoritas aktornya adalah para mahasiswa, sehingga masyarakat –terlebih para penentang pemikiran yang melampaui zaman- menuding mahasiswa sudah “rusak” pola pikirnya, bahkan dituduh “kafir”. Padahal permasalahannya hanyalah komunikasi yang tidak nyambung atau bahkan sengaja tidak disambungkan. Kemudian ketika (media) sering meng-ekspose perbuatan “amoral” yang banyak bertebaran di lingkungan mahasiswa dengan modus apapun dan di tempat manapun, akhirnya banyak yang menyangsikan masalah moralitas mahasiswa. Dan juga ketika gerakan-gerakan mahasiswa “diduga” banyak “ditunggangi” oleh kepentingan-kepentingan “pasar” maupun “politik”, akhirnya sebagian kalangan mempertanyakan kualitas dan kemurnian gerakan mahasiswa. Di sini, mahasiswa bertanggungjawab dan harus mampu memberikan penjelasan (tabyin) yang segamblangnya kepada khalayak bahwa mahasiswa tetap dalam “status”-nya yang intelek, cendekia, kritis, obyektif, serta berakhlaqul karimah. Meskipun hal ini tentu tidak mudah, dan kelihatannya, problem ini yang sedang menjangkiti mahasiswa kita sekarang, yaitu mahasiswa yang belum “mampu” memberikan bukti tanggungjawab moral mereka kepada masyarakat akan status yang mereka genggam, entah karena memang mereka kurang berkualitas, atau hanya kurang percaya diri (dengan dalih tawadhu’) saja?.

Mahasiswa (Unisnu); Dulu dan Kini

Membincang mengenai mahasiswa Unisnu tentu bukan hal mudah, apalagi apabila harus meng-compare antara mahasiswa zaman dulu dan era kini, karena mahsiswa Unisnu tentu “lahir” dari berbagai “rahim”, baik secara biologis, geografis, etnografis, sampai teologis. Akan tetapi agar lebih terkesan santai, meskipun tidak dapat menghindari kesan subyektif, mungkin paparan ini hanya merupakan sepotong “pandangan” dan harapan yang digambarkan secara sederhana dan tidak ilmiah, bahkan hanya “dilihat” dari sedikit sisi, dan hanya dimaksudkan agar menjadi bahan muhasabah bukan menilai apalagi menghakimi.

Masa dulu, sering diidentikkan dengan “kemiskinan”, “ke-katro-an”, “keterbatasan” informasi dan teknologi, dan masih banyak lagi sebutan yang lain. Dan tentu hal ini berpengaruh pula pada eksistensi mahasiswa pada masa itu (masa awal Inisnu, berdasar cerita “mereka”). Sehingga, mahasiswa waktu itu juga sering –bahkan bangga- meriwayatkan kisah mereka sebagai “sosok” yang terkesan “miskin”, “katro”, dan “terbelakang” dalam hal informasi dan kecanggihan teknologi. Tetapi di balik kondisi –dha’if- semacam itu, mereka juga menutup kesan “kasihan” itu dengan capaian prestasi akademik dan gerakan organisasi yang sanggup merubah “wajah” peradaban kampus menjadi lebih “berwarna” dan berwibawa. Semangat belajar mereka tidak terpengaruh dengan ada atau tidaknya sarana yang berbau teknologis, mereka memiliki niat yang tulus dan semangat yang kuat, karena mereka yakin bahwa dua hal inilah prasyarat memperoleh ilmu yang bermanfaat. Mereka memiliki kemurnian serta keikhlasan gerakan, tanpa itung-itungan, yang ada di benak mereka adalah bagaimana kampus kita ini bisa besar dan berwibawa dan kita adalah orang-orang yang ikut andil di dalamnya. Sekali lagi, ini menurut penuturan sebagian “mereka”, bisa juga benar, boleh jadi tidak.

Gerakan-gerakan mahasiswa menjadi “perlawanan” bagi kebijakan-kebijakan yang kurang populis, organisasi-organisasi mahasiswa bukanlah sekedar penyambung lidah mereka yang berkepentingan, tetapi sebagai “penyeimbang” agar tidak terjadi diskriminasi apalagi yang mengatasnamakan institusi. Dan hal ini juga yang perlu “dibangun” ulang oleh mahasiswa era ini di mana telah banyak yang kehilangan kepercayaan akan kemurnian gerakan-gerakan kemahasiswaan. Kasus-kasus plagiasi di kalangan mahasiswa dahulu memang lumayan kecil, boleh jadi karena memang mereka tidak melakukannya, atau mungkin karena tidak terdeteksi karena belum muncul alat detector yang secanggih saat ini, tetapi minimal, mereka menulis dengan perjuangan yang sedemikian rupa, bergelut dengan buku (istilah Iwan Fals dalam “Sarjana Muda”), bahkan kadang satu buku harus berputar berganti pinjam ke ratusan mahasiswa, sebagai tanggungjawab akademik yang harus mereka buktikan kepada dunia bahwa mereka adalah makhluk pembaca, penulis, peneliti dan penganalisa. Meski tidak semua seperti itu, tetapi yang penulis rasakan memang begitu.

Sebaliknya, zaman ini sering diidentikkan dengan era “modern”, “canggih”, “instan”, dan serba “teknologis”. Hal inipun juga mengesankan eksistensi mahasiswa yang juga lebih “modern”, “canggih”, “instan”, dan dekat sekali dengan kecanggihan teknologi, bahkan banyak sekali yang terjebak dan menjadi “korban” teknologi. Semula teknologi diciptakan sebagai “pembantu” manusia dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaannya, sekarang kondisinya berbalik, sehingga manusia menjadi “budak” teknologi sampai kehilangan sisi “kemanusiaannya”. Saking akrabnya dengan keindahan teknologi, sehingga mahasiswa era ini lebih sibuk saling “lempar” kegalauan di dunia maya, status-status yang di-share lebih banyak yang nggak penting (tentu tidak semua) dibandingkan menulis kalimat-kalimat revolusioner sebagaimana dulu yang pernah dilakukan oleh Kartini yang menggemparkan jagat itu. Sehingga dari sini perlu ada gerakan semesta “sehat dunia maya” agar kecanggihan teknologi tidak menjadi “penjajah” ranah-ranah strategis kemanusiaan tetapi justru membantu terciptanya tatanan manusia yang seutuhnya.

Mahasiswa menulis bukan lagi dalam rangka memberikan sumbangsih keilmuan berdasarkan temuan-temuan dari hasil penelitian atau observasi dan analisis mereka, tetapi lebih pada pemenuhan “pesanan” tugas dari dosen atau atau hanya syarat kelulusan. Sehingga tidak heran apabila dalam setiap cover makalah atau skripsi selalu tertulis “Makalah ditulis guna memenuhi tugas matakuliah…..” atau “Skripsi sebagai syarat memperoleh gelar sarjana…”, logikanya, apabila tidak ada tugas maka dimungkinkan mahasiswa tidak lagi berminat menulis atau meneliti. Meski menulis karena ada “pesanan” juga tidak salah-salah amat, daripada tidak sama sekali, mahasiswa zaman dulu dulu juga begitu, akan tetapi “semangat”-nya yang berbeda. Bahkan, yang lebih ironis adalah, menulis di samping hanya sebagai pemenuhan “pesanan” diperparah lagi dengan aksi “copy paste” tanpa disertakan analisis dan sumbernya. Dan ini sering terjadi tanpa dirasa salah dan dosa oleh -sebagian- mahasiswa.

Buku-buku dan jurnal-jurnal ilmiah, saat ini mungkin sudah tidak begitu ngetrend, karena ada yang lebih instan menyajikan berbagai informasi dengan cara googling meski belum jelas siapa “mufti”-nya. Buku-buku itu hanya “digauli” pada moment-moment tertentu, semisal ketika menjelang ujian akhir semester atau –lagi-lagi- terdapat tugas tertentu dari dosen yang berkaitan dengan resume buku atau jurnal tertentu, tatkala ada moment semacam itu, para mahasiswa terlihat ramai di perpustakaan dengan berbagai motif, ada yang memang belajar sungguhan, ada yang “pencitraan”, terdapat pula yang mencari wifi gratis atau bahkan “mojok” dengan pacar dengan dalih belajar bersama, dan lain-lain, bahkan ketika musim ujian atau dadeline tugas telah tiba, terdapat pula sebagian mahasiswa yang model belajarnya menggunakan system “kebut semalam”. Sungguh “memprihatinkan”. Meski tidak semua seperti itu, tetapi yang penulis rasakan memang begitu.

Peran dan Tanggungjawab Mahasiswa [Unisnu]

Kemampuan nalar dan spiritual serta mengapresiasi budaya lokal yang dimiliki oleh mahasiswa Islam (baca; NU) mungkin tidak (belum) dipunyai oleh mahasiswa di luar Islam (NU). Karena dalam konteks pembangunan, mahasiswa NU memiliki watak dasar tersendiri yang terinspirasi dari adagium “al-muhafadzatu ala al-qadim as-shalih, wa al akhdzu bi al-jadid al-ashlah”, dalam arti bahwa watak dasar gerakan pembangunan mahasiswa NU, boleh jadi mengubah ke arah yang lebih baik, (bersifat transformatif), dan bisa juga mempertahankan dan melestarikan ajaran karena itu merupakan prinsip dan jati diri, (bersifat konservatif). Sehingga nilai lebih dari mahasiswa NU sebagai agen perubahan adalah fleksibilitas dan dinamika meraka dalam merespon serta melakukan persentuhan dengan lingkungan hidupnya menuju hal yang lebih maslahah.

Mahasiswa NU memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun bahkan “merekayasa” bangsa ini, kerana ruh ke-NU-an selalu seiring dan sejalan dengan ruh kebangsaan. Mahasiswa NU dituntut untuk menampilkan diri sebagai sosok yang memiliki integritas, responsive terhadap dinamika dan perkembangan sekitarnya, sekaligus menampilkan citra keislaman dan ke-NU-annya, mahasiswa NU harus mempu menjadi “uswah hasanah” terutama dalam masalah toleransi, keadilan, kejujuran dan tanggungjawab. Mahasiswa NU dituntut untuk sanggup membuka cakrawala baru yang lebih luas terhadap umatnya, serta mampu membedah kebuntuan-kebuntuan umat seperti eksklusifisme dan fatalisme. Mahasiswa NU juga harus mempu berperan sebagaimana para ulama yang dengan semangat, keikhlasan, dan kesederhanaan, serta keakraban, mereka tak lelah membimbing umat menuju kehidupan yang lebih ideal dan sekaligus menjadi inspirator umat dalam merumuskan aspirasi mereka.

Untuk membangun umat, sudah barang tentu mahasiswa harus terlebih dahulu membangun karakternya, yaitu mahasiswa yang gandrung melakukan senggama intelektual, selalu siap menjadi pelopor dan pembangun peradaban, bukan hanya “bashthatan fil ilmi wa al-jism” tetapi juga memiliki “qalbun salim”, bukan hanya lantang berteriak “lawan…!!!”, tetapi jiwanya juga shalih, mampu bergerak melakukan perubahan dari yang jumud menjadi cerah, dari yang eksklusif menjadi inklusif, dari keterkekangan menjadi “kebebasan” dan demokrasi. Nah, ketika karakter mahasiswa telah terbangun, baru kemudian membangun karakter umatnya menuju umat yang beradab, berkeadilan, berperikemanusiaan, serta berkemakmuran (aminatan, muthma’innatan, ya’tiha rizquha min kulli makan). Hal ini seirama dengan inspirasi al-Qur’an bahwa Tuhan tidak akan menrubah “apa-apa” yang ada di dalam suatu kaum kecuali kaum itu merubah “apa-apa” yang ada pada “jiwa” mereka. Wallahu A’lam bi as-Shawab. Oleh: Abdul Wahab Saleem


Admin Unisnu

Komentar