Dakwah Pemberantasan Kemiskinan


Pemkab Jepara pada tahun ini menyosialisasikan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Lewat program itu, setidaktidaknya ada 16 desa di 11 kecamatan menjadi percontohan (SM, 19/6/13). Program itu positif, serta perlu didukung keberlangsungan dan persebarannya karena bisa menjadi bagian dari ikhtiar membentuk karakter kemandirian dalam menekan angka kemiskinan.

Dana bantuan sosial untuk program itu berasal dari APBN yang langsung ditransfer ke kelompok wanita tani di desa-desa yang jadi percontohan. Tiap kelompok/ desa mendapat Rp 47 juta; perinciannya Rp 30 juta untuk tanaman dan demplot, Rp 112 juta untuk kebun pembibitan, Rp 3 juta untuk pekarangan sekolah, dan Rp 2 juta untuk industri olahan pangan. Program ini sebagai bagian kecil dari upaya mengoptimalkan lahan pekarangan rumah.

Selama ini pekarangan dengan disparitas luasan, masih menjadi lahan kosong. Bila tidak ada program itu, tidak dimanfaatkan untuk area menanam tanaman yang bisa dikonsumsi. Banyak tanaman di pekarangan yang tak terkonsep dengan baik. Kondisi itu banyak ditemui di pedesaan, terlebih di wilayah pesisir. Banyak pekarangan penduduk desa relatif lebih luas dibanding milik warga kota. Namun sayang potensi itu belum atau tidak dimanfaatkan untuk menanam sayur-sayuran dan buah-buahan. Di sisi lain, mereka terimpit kemiskinan, kekurangan asupan vitamin dan gizi. Ada kesia-siaan dari keberadaan lahan itu.

Kabupaten Jepara merupakan kawasan bisnis, terutama karena potensi industri olahan kayu. Tetapi ada sisi lain yang harus ditangani, dan erat dengan kemiskinan, yaitu masyarakat pesisir. Mereka yang tinggal di desa dekat garis pantai di satu sisi memiliki potensi untuk menggerakkan roda ekonomi. Demikian juga masyarakat di lereng Gunung Muria dengan potensi agro mereka. Pemerintah perlu mendukung dan memberi fokus perhatian pada upaya membangkitkan kesadaran.

Sadar untuk bisa bangkit dan terampil, mandiri secara ekonomi dan mampu memanfaatkan peluang sekecil apa pun, yang menjadi hal bermakna dalam kehidupan. Program KRPL akan bergairah dan bisa diterima masyarakat jika menggunakan strategi sosialisasi dari segala arah. Peran Dakwah Forum pengajian dan perkumpulan ibu-ibu bisa disisipi atau diisi dengan dakwah untuk membangun kesadaran memerangi kemiskinan.

Kemiskinan adalah problem masyarakat dan sejatinya mereka perlu terlibat secara aktif untuk mengatasi. Pemerintah seyogianya terus membuka keran fasilitas untuk program dan daya dukung lain yang bisa menghidupkan kesadaran dan kreativitas masyarakat. Dari sisi ini, perlu mereorientasi dakwah di tengah masyarakat. Dai atau pemuka agama juga perlu memberi perhatian, bekerja sama dengan pemerintah desa dan lembaga terkait untuk fokus mengampanyekan semangat memerangi kemiskinan. Dalam program KRPL, warga yang memiliki pekarangan bisa terlibat secara aktif.

Program ini lebih dekat dengan masyarakat karena cukup memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam sayur dan buah. Terlebih pemerintah memberikan bantuan dengan segala jenis bibit yang dibutuhkan. Tinggal bagaimana membangunkan kesadaran serta memfasilitasi keterampilan dan itu bisa bisa difasilitasi penyuluh lapangan di desa.

Di Desa Bumiharjo Kecamatan Keling dan Desa Cepogo Kecamatan Kembang, dua di antara 16 desa yang menjadi percontohan, petugas penyuluh lapangan terlibat aktif memberikan panduan. Kelompok wanita tani sebagai eksekutor menangkap upaya itu dan terus menyosialisaikan ke warga. Hal itu perlu dukungan strategi dakwah dari pemuka agama dan dai.

Bahwa masalah kemiskinan juga krusial, dan agama memberi perhatian serius mengenai pengatasannya. Karena pengungkitnya ada pada upaya sosialisasi maka peran pendakwah dalam ikut serta menyosialisasikan gerakan bersama mengurangi kemiskinan dan ikhtiar mandiri pangan menjadi sangat penting. (10)

— Achmad Slamet, dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara sumber: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/07/24/231903/10/Dakwah-Pemberantasan-Kemiskinan

Admin Unisnu

Komentar